Minggu, 10 April 2011

Bahasamu Cermin Kepribadianmu Oleh: Lidwina J. Padmi


Hari itu masih pagi, saya menggunakan angkutan umum menuju tempat kerja di daerah Menteng. Di atas angkutan umum saya mendengar kondektur berkata kepada seseorang, “bangsat lo!”. Dalam hati saya berkata, “Wah, pagi-pagi sudah dengar kata yang tidak baik”. Singkat kata, saya pun tiba di tempat kerja.
Seperti biasa, saya menjalankan aktivitas kerja. Siang hari, ketika jam istirahat, saya menuju wc. Di lapangan anak-anak sedang asyik bermain berbagai jenis permainan. Ada yang bermain futsal, ada yang main basket, ada yang berkerjar-kejaran, ada yang asyik makan makanan ringan dan ada juga yang santai ngobrol. Sepulang saya dari wc menuju ruang guru,  saya menangkap percakapan anak, “goblok lo!”. Kemudian disahut temannya, “lo yang goblok, lo kejar dong bolanya!”. Saya pun berlalu dan tidak tahu apa kelanjutan percakapan itu. Dalam hati saya berkata, “wah, di sekolah saja yang nyata-nyatanya adalah dunia pendidikan terdengar kata yang tidak baik, bagaimana di tempat lain”.
Hari itu aktivitas kerjapun berakhir. Biasanya saya pulang kerja sekitar jam 3 sore. Karena tadi pagi, saya berangkat dengan angkutan umum, sore itu pun saya pulang menggunakan angkutan umum. Seperti pada hari kerja pada umumnya, pagi dan sore merupakan jam padat penumpang. Tetapi syukur karena jam 3 sore penumpang belum sepadat ketika jam 4 atau jam 5 sore. Di tengah perjalanan saya naik angkutan umum sembari diserang rasa ngantuk berat, tiba-tiba saya mendengar teriakan dari luar angkutan umum, “dungu lo, goblok, kurang ajar! Berhenti di pinggir dong!”.  Saya menoleh keluar dan melihat seseorang pengendara motor memainkan gas motornya. Lagi-lagi saya berkata dalam hati, “wah...sepertinya kata-kata tidak baik ini akan menjadi sarapan tiap hari”.
Tidak lama kemudian, saya tiba di persimpangan jalan menuju rumah. Setelah turun dari angkutan umum saya masih berjalan sekitar 100 meter untuk sampai di rumah. Biasanya setiap sore hari di depan rumah sudah ramai anak-anak bermain bola. Saya pun tiba di rumah. Sebelum masuk rumah saya duduk sebentar di teras untuk menghilangkan penat diiringi derai tawa anak-anak yang sedang bermain bola. Tidak lama kemudian saya mendengar kata yang tidak sopan dari riuh anak-anak dengan menyebut nama binatang, kotoran manusia, bahkan alat kelamin. Saya kaget dan tersenyum sinis sambil menggeleng kepala. Dalam hati  saya berkata, “wah...apalagi ini! kok kata sekotor itu bisa diucapkan oleh anak seusia mereka”. Sayapun masuk rumah.
            Itulah sepenggal pengalaman tentang potret berbahasa generasi belia bangsa ini. kondisi ini merupakan sebuah cermin buram dari genersi muda bangsa ini. dengan kondisi ini pantaslah pertanyaan ini kita refleksikan bersama, “apakah kita masih pantas dikatakan bangsa yang santun dan beradab? Bangsa kita lama mengenal peribahasa, “bahasa menunjukkan bangsa”. Peribahasa tersebut mengandung makna bahwa tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka. Kesopansantunan seseorang menunjukkan asal lingkungan dan keluarganya. Bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut.
          Menurut Keraf (1980) fungsi bahasa adalah sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, alat komunikasi, alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, dan alat untuk mengadakan kontrol sosial. Dengan begitu, bahasa sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri dipergunakan untuk mengkespresikan segala sesuatu yang tersirat di dalam pikiran dan perasaan penuturnya, sementara ungkapan pikiran dan perasaan manusia dipengaruhi oleh dua hal yaitu oleh keadaan pikiran dan perasaan itu sendiri. Sedangkan bahasa sebagai alat komunikasi bermakna bahwa bahasa mempunyai fungsi sosial dan fungsi budaya. Dari pengertian tersebut semestinyalah bahasa yang kita gunakan atau kata yang keluar dari mulut kita adalah hasil dari kesadaran pikiran dan perasaan. Dengan kata lain, bahasa yang kita gunakan merupakan cermin pribadi kita. Jika kita tidak menganggap bahasa itu penting, alias yang penting asal ngucap, asal bunyi, asal bicara, dan asal mengungkapkan, kita adalah orang yang egois.
Para ilmuan psikologi sudah lama menyakini bahwa menyempurnakan kemampuan bahasa, kemampuan verbal menyampaikan pendapat dan pikiran tanpa menimbulkan multitafsir adalah cermin perkembangan kepribadian diri yang semakin membaik. Para ilmuan psikologi ini mengatakan bahwa ada kaitan antara kecerdasan berbahasan dengan kematangan pribadi seseorang. Semakin matang pribadi seseorang maka semakin baik kemampuan berbahasanya. Sebaliknya, kepribadian yang buruk akan tercermin dalam bahasanya yang buruk pula. Rumusan ini  dikenal dengan rumusan metode penguasaan linguistik sebagai unsur perkembangan pribadi.
Kembali pada cerita pada awal tulisan ini. Kata-kata tidak baik yang terlontar dari orang-orang yang penulis temui di jalan tidak begitu saja mereka ketahui. Mereka mendapatkan kata itu dari lingkugan sekitar tempat mereka bergaul dan dari keluarga mereka. Usia anak-anak sampai remaja adalah usia yang membutuhkan model hidup. Mereka akan mencontoh orang dewasa di sekitar mereka. Jika dalam keluarga dan lingkungan mereka sering mendengar kata-kata yang tidak benar, mereka juga akan melakukan hal yang sama. Demikian juga sebaliknya, jika anak-anak dan remaja melihat dan mendengar orang dewasa melakukan dan mengatakan yang baik, mereka juga akan mencontohnya.
Kita perlu merasa khawatir jika pengalaman di atas sudah merambah di lembaga pendidikan (sekolah). Bagaimana pun juga, lembaga pendidikan merupakan suatu wadah yang ikut berperan dalam pembentukan karakter atau pribadi orang-orang yang terlibat di dalamnya, khususnya peserta didik. Dari segi afektif, mereka diajarkan berbagai macam nilai-nilai kehidupan yang diharapkan dapat mengakar dalam kehidupan dan pribadi mereka. Dengan begitu, pada masa pencarian jati diri, mereka dapat belajar menentukan yang baik dan buruk, salah dan benar. Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan citra diri atau karakter pribadi. Maka dari itu, masyarakat sekolah, terutama tenaga pendidik sebagai figur teladan hendaknya mampu membimbing dan memberi contoh tutur kata yang baik sebagai cermin pribadi yang baik pula.
Selain itu, media televisi juga menyumbang pengaruh berbahasa yang tidak baik bagi anak-anak dan remaja. Jika kita memperhatikan media televisi kita, tidak terhitung tindakan dan perkataan yang tidak baik dipertontonkan kepada anak-anak dan remaja. Dengan demikian, media televisi menjadi salah satu tantangan dalam membentuk generasi muda yang santun dalam berbahasa.
Dan akhirnya, untuk menjadi pribadi yang baik yang tercermin dalam berbahasa yang baik pula tidak terjadi seketika seperti membalikan telapak tangan. Untuk menjadi pribadi yang baik membutuhkan proses dan dukungan banyak pihak. Yang pertama harus kita sadari bahwa kita dilahirkan dengan berjuta potensi. Kesadaran ini harus melahirkan motivasi untuk menjadi pribadi yang baik. Motivasi yang baik ini akan mendorong kita melakukan hal-hal yang baik pula. Dalam proses menuju pribadi yang baik ini kita akan bertemu dengan berbagai pengalaman yang harus kita saring. Pribadi yang baik akan tercermin lewat berbahasa dan bertutur kita. Sudahkah kita menjadi pribadi yang baik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar